Alamat : Jalan 17 Agustus Manado Tel. 0431 852709 Fax 0431 841075

Email : bpkh6mdo@gmail.com, bpkh6@dephut.go.id

Jumat, 03 Agustus 2007

Profil Kawasan Konservasi

Kawasan Konservasi Sulawesi Utara

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone


Taman Nasional Boganinani Wartabone ditetapkan sebagai kawasan taman nasional berdasarkan SK. Menhut No. 724/Kpts-II/1993 Tanggal 8 Nopember 1993. Secara administratif kawasan Taman Nasional Boganinani Wartabone berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow Propinsi Sulawesi Utara dan Kabupaten Gorontalo Propinsi Gorontalo dengan luas 287.115 Ha. Dari luasan tersebut terdapat 177.115 Ha berada pada Kabupaten Bolaang Mongondow dan 110.000 Ha berada di Kabupaten Gorontalo.
Kawasan Taman Nasional Boganinani Wartabone memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, yaitu antara lain potensi keanekaragaman jenis tumbuhan yang terdiri dari 400 jenis pohon, 24 jenis anggrek, 120 jenis epifit, 49 jenis paku-pakuan, dan 90 jenis tumbuhan obat serta keanekaragaman satwa meliputi 24 jenis mamalia, 11 jenis reptilia, 2 jenis ampibi, 64 jenis aves, 36 jenis kupu-kupu, 200 jenis kumbang, dan 19 jenis ikan air tawar.
Di Kawasan Taman Nasional Boganinani Wartabone terdapat empat tipe ekosistem yang menonjol, yaitu hutan sekunder, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan, dan hutan lumut. Disamping itu Kawasan Taman Nasional Boganinani Wartabone merupakan daerah tangkapan air bagi dua DAS yaitu DAS Onggak Dumoga di Kabupaten Bolaang Mongondow DAS Bone Bolango di Kabupaten Gorontalo, yang merupakan sumber air utama bagi pengairan dan irigasi kawasan pertanian di kedua wilayah kabupaten tersebut.



Taman Nasional Bunaken

Taman Nasional Bunaken ditetapkan menjadi kawasan taman nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 730/Kpts-II/1991 tanggal 15 Oktober 1991 tentang Penetapan kawasan pulau-pulau Bunaken, Siladen, Manado Tua, Mantehage dan Nain serta Arakan-Wawontulap sebagai Taman Nasional Bunaken, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 Desember 1992.
Taman Nasional Bunaken merupakan kawasan konservasi perairan dengan luas 89.065 Ha, terdiri dari dua bagian yang terpisah, yaitu :
- Bagian utara meliputi lima pulau masing-masing Bunaken, Siladen, Manado Tua Mantehage, dan Nain serta wilayah pesisir desa-desa Molas, Meras, Tongkeina dan Tiwoho.
- Bagian selatan meliputi pesisir desa-desa Poopoh, Teling, Kumu, Pinasungkulan, Raprap, Sondaken, Wawontulap, dan Popareng.

Potensi Taman Nasional Bunaken yang sangat menonjol adalah keanekaragaman hayati yang sangat tinggi sehingga Taman Nasional Bunaken mempunyai nilai konservasi nasional sebagai perwakilan ekosistem tropis Indonesia, dan juga memiliki nilai konservasi internasional sebab lokasi Taman Nasional Bunaken terletak di pusat keanekaragaman hayati dan pesisir kawasan Indo-Pasifik. Keanekaragaman hayati tersebut meliputi :
1. Ekosistem laut dan pesisir yang terdiri dari terumbu karang, padang lamun tropis (Seagrass), rumput laut (Algae), hutan bakau (Mangrove), ikan, mamalia laut, invertebrata terumbu karang.
2. Ekosistem daratan terdiri dari kawasan hutan tropis (P. Manado Tua) dan kawasan binaan (pertanian dan pedesaan) sebagai daerah penyangga.



Suaka Margasatwa Karakelang

Sebelumnya status dan fungsi kawasan Suaka Margasatwa Karakelang adalah taman buru berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 510/Kpts/UB/8/1979 tanggal 8 Agustus 1979 yang menunjuk kawasan tersebut sebagai taman buru dengan luas 21.800 Ha. Kemudian kawasan ini dipecah menjadi dua kawasan taman buru dengan SK Menteri Kehutanan No. 517/Kpts-II/1989 tanggal 19 September 1989 untuk kawasan Karakelang Selatan dengan luas 3.995 Ha dan SK Menteri Kehutanan No. 399/Kpts-II/1989 tanggal 2 Agustus 1989 untuk kawasan Karakelang Utara dengan luas 20.674 Ha. Akan tetapi berdasarkan penelitian biotis yang dikandungnya, maka berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 97/Kpts-II/2000 tanggal 22 Desember 2000, menetapkan dan mengubah fungsi serta menunjukkan kawasan tersebut sebagai kawasan suaka margasatwa dengan luas 24.669 Ha.
Suaka Margasatwa Karakelang terletak di Pulau Karakelang yang secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud Propinsi Sulawesi Utara. Suaka Margasatwa Karakelang dibagi atas dua kawasan, yaitu kawasan Karakelang Utara (100 – 608 m dpl) dan kawasan Karakelang Selatan (100 – 521 m dpl). Kawasan Karakelang Utara berbatasan dengan Kecamatan Beo, Essang, Gemeh, dan Rainis. Sedangkan Kawasan Karakelang Selatan berbatasan langsung dengan Kecamatan Melonguane, Beo, dan Rainis.
Kawasan ini berada dalam wilayah Wallacea yang unik sehingga memiliki satwa yang mempunyai ciri Asia dan Australia sekaligus. Suaka Margasatwa Karakelang merupakan hutan yang tumbuh diatas tanah yang berkapur sehingga didominasi oleh jenis tumbuhan yang tahan kondisi tanah yang basah (pH rendah). Suaka Margasatwa Karakelang menjadi contoh langka dari tipe hutan sebuah pulau kecil dalam wilayah Wallacea.
Pulau Karakelang memiliki sekurang-kurangnya ada 16 jenis tumbuhan endemik, baik pohon, liana, semak maupun epifit diantaranya yaitu Polotan a (Gymnacranthera ibutti), Busa u palian (Dendrobiumdimorphum), Ares (Duabanga moluccana), Natoh (Palaqium sp), Lolangirang (Cananga ordorata), Gehe (Pometia pinnata), Gumak (Euginia sp), Awar (Anthocephalus macrophylius) dan kayu hitam (Dyospyros rumimphii). Pulau Karakelang juga memiliki keanekaragaman satwa antara lain berbagai jenis burung yaitu Tu a (Gymnocrex talautensis), Sampiri (Eos histrio), Bunggi (Amauromis magnirostris), Sait ta ahurangan (Halcyon enigma) dan Paniki Talaud (Aceredon humilis).



Cagar Alam Gunung Lokon

Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam Gunung Lokon berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 109/Kpts-II/2003 Tanggal 23 Maret 2003 dengan luas 720. Cagar Alam Gunung Lokon terletak di Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Propinsi Sulawesi Utara. Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam karena memiliki ekosistem khas berupa hutan pegunungan dengan gunung berapi yang masih aktif dan mempunyai dua kepundan yang sangat menarik. Secara umum topografi kawasan ini adalah landai sampai bergunung dengan kelerengan 0 – 90%, dimana ketinggian puncaknya mencapai 1.580 m dpl.
Jenis flora di kawasan Cagar Alam Gunung Lokon didominasi oleh Pandan (Pandanus sp), Aren (Arenga pinnata), Beringin (Ficus benjamina), Cemara gunung, pakis-pakisan dan alang-alang. Keadaan ini dimungkinkan oleh karena kegiatan Gunung Lokon yang sewaktu-waktu mengeluarkan debu panas dan mungkin juga lahar. Sedangkan jenis satwa yang terdapat di kawasan ini diantaranya adalah Kera hitam Sulawesi (Macaca nigra), Babi hutan, burung, Sesap madu (Anthopyga siparaja), Raja udang (Alcedo meinting), pipit, tekukur dan kus-kus (Phalanger celebensis).



Cagar Alam Gunung Ambang

Cagar Alam Gunung Ambang secara geografis terletak antara 0º40’ – 0º 45’ LU dan 124º20’ – 124º 45’ BT. Sedangkan secara administratif terletak di dua wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Modayag dan Kecamatan passi Timur Kabupaten Bolaan Mongondow. Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar alam berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 359/Kpts/Um.6/1978 dengan luas 8.638 Ha, yang diperuntukan bagi perlindungan Anoa dan kera.
Kawaasan Cagar Alam Gunung Ambang memiliki topografi bergelombang, berbukit sampai bergunung dan sebagian kecil landai, mulai dari dataran rendah hingga berbukit dan ketinggian mulai dari 700 sampai dengan 1.780 m dpl. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, Cagar Alam Gunung Ambang termasuk iklim tipe A dengan curah hujan rata-rata 2.023 – 2.688 mm/tahun.
Vegetasi yang dapat dijumpai di Kawaasan Cagar Alam Gunung Ambang antara lain adalah Kayu loyang (Quercus sp), Makembes (Euginia sp), pakoba, Sanket/Sasoro (Laportea sp), Nantu (Palaquium obtusifolium), Kenanga (Cananga ordorata), Cempaka (Elmerrillia ovalis), Kayu Bugis, Mumu (Koordersiodendron pinantum), rotan, palma (Pinanga sp), Wanga (Pigafetta fillaris), Sirih hutan (Piper aduncum) dan Pisang hutan (Musa sp).
Di dalam Cagar Alam Gunung Ambang ini hidupbeberapa jenis satwa liar yang dilindungi antara lain Anoa (Bubalus depresicornis), Kera/Yaki (Macaca nigra), Musang Sulawesi (Macrogalidia muschenbrokii), Kus-Kus (Phalanger celebensis), Tangkasi (Tarsius spectrum) serta beberapa jenis burung antara lain Rangkong (Rhyticerox cassidix), Raja udang dan Kum kum.





Suaka Margasatwa Manembonembo


Kawasan Suaka Margasatwa Manembonembo sebelum ditetapkan menjadi kawasan konservasi masih merupakan kawaasan hutan lindung. Dengan adanya SK Menteri Pertanian No. 441/Kpts/Um/7/78 tanggal 16 Juli 1978 maka kawasan ini menjadi Suaka Margasatwa Manembonembo dengan luas 6.426 Ha. Secara administratif kawasan ini terletak di wilayah Kecamatan Tombariri kabupaten Minahasa Selatan.
Vegetasi yang dapat dijumpai di SM Manembonembo antara lain Kenanga (Cananga ordoratum), Nantu (Palaquium obtusifolium), Kenanga (Cananga ordorata), Cempaka (Elmerrillia ovalis), Kayu Bugis, Mumu (Koordersiodendron pinantum), rotan, palma (Pinanga sp), Sirih hutan (Piper aduncum), Pisang hutan (Musa sp) dan Cemara (Casuarina sp).
Jenis satwa yang terdapat di kawasan SM Manembonembo diantaranya adalah Kera Hitam (Macaca nigra), , Kus-Kus (Phalanger celebensis), Tangkasi (Tarsius spectrum) serta beberapa jenis burung antara lain Rangkong (Rhyticerox cassidix), Maleo (Macrocephalon maleo), Kakatua Putih, dan Raja udang (Alcedo meinting).



Taman Wisata Alam Batu Putih

Taman Wisata Alam Batu Putih terletak di Kecamatan Bitung Utara Kota Bitung. Secara geografis TWA Batu Putih terletak antara 1º30’ – 1º34’ LU dan 125º3’ – 125º15’ BT. Kawasan TWA Batu Putih ini berbatasan langsung dengan Cagar Alam Tangkoko, Cagar Alam DuaSudara dan Taman Wisata Alam Batu Angus.Sebelumnya kawasan ini adalah wilayah Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, kemudian ditetapkan dengan SK Menteri Pertanian No. 1049/Kpts/Um/12/81 tanggal 24 Desember 1981 sebagai taman wisata alam dengan luas kawasan 615 Ha.
Secara umum kawasan TWA Batu Putih mempunyai topografi datar hingga landai (0 – 35 m dpl). Kawasan ini bertipe iklim B dengan curah hujan rata-rata 2.279 mm dan suhu rata-rata harian 23 – 24º C.
Di dalam kawasan ini terdapat jenis tumbuhan pantai seperti Ketapang (Terminalia catappa), Bitung (Baringstonia sp), Pandan (Pandanus sp), Jati (Tectona grandis), Mahang (Macaranga) dan Pohon Bugis. Sedangka jenis satwa yang dapat dijumpai di kawasan ini antara lain Kera Hitam (Macaca nigra), , Kus-Kus (Phalanger celebensis), Tangkasi (Tarsius spectrum), Tupai (Tupaya sp), Penyu hijau (Chelonia midas), Penyu Belimbing (Dermochelis coriacea) dan Raja udang (Alcedo meinting).
Potensi obyek wisata alam dan jasa lingkungan yang menjadi daya tarik wisata di kawasan TWA Batu Putih adalah pemandangan pesisir pantai, pemandangan alam, hutan yang sejuk serta pengamatan satwa liar.



Taman Wisata Alam Batuangus

Sebelumnya Taman Wisata Alam Batuangus termasuk di dalam kawasan Cagar Alam Tangkoko dan Cagar Alam Duasudara, kemudia dirubah statusnya menjadi Taman Wisata Alam berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 1049/Kpts/Um/12/81 tanggal 24 Desember 1981 dengan luas 635 Ha. Nama Batuangus diambil dari nama gunung yang terdapat di kawasan tersebut yakni gunung yang kecil yang belum lama terbentuk sebagai hasil dari letusan gunung berapi tahun 1839 begitu mudanya sehingga lereng atas yamg mengarah ke laut masih hitam tanpa pohon. Tinggi gunung tersebut hanya 450 m dpl.
Taman Wisata Batuangus terletak di dekat desa Kasawary kurang lebih 15 Km dari Kota Bitung.
Potensi flora dan fauna di kawasan Taman Wisata Alam Batuangus antara lain Bakau, Lantana camara, Ficus sept, Cemara, Tangkasi (tarsius spectrum), Elang Laut, Bangau Hitam dan biota laut. Sedangkan potensi wisatanya adalah panorama pantai dengan vegetasi yang khas dan hutan dataran rendah dengan beberapa satwa endemik Sulawesi.



Cagar Alam Tangkoko

Cagar Alam Tangkoko secara geografis terletak 1º3’ – 1º 4’ LU dan 125º3’ – 125º15’ BT., sedangkan secara administratif terletak di Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung. Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar alam berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 1049/Kpts/Um/12/81 tanggal 24 Desember 1981 dengan luas 3.196 Ha.
Secara umum kawasan ini mempunyai topografi landai hingga bergunung, mulai dari hutan ke pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan dan hutan lumut. Cagar Alam Tangkoko mempunyai satu puncak gunung yaitu Gunung Tangkoko dengan ketinggian mencapai 1.109 m dpl, mempunyai garis tengah di puncak kurang lebih 1 Km. gunung ini pernah meletus pada tahun 1839. Berdasarkan Schmidt dan Ferguson kawasan cagar alam ini mempunyai curah hujan 2500 – 3000 mm/tahun, temperatur rata-rata 20 - 25º C.
Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam karena memiliki potensi kawasan dengan tipe ekosistem yang beragam dari vegetasi pantai hingga vegetasi pegunungan dan memiliki beberapa satwa endemik, air terjun dan sumber air panas. Potensi flora dan fauna yang terdapat di kawasan ini antara lain Beringin (Ficus sp), Aras (Duabanga maluccana), Lingua (Pterocarpus indicus), Nantu (Palaquium sp), Bunga Edelweis (Anaphalis javanicum), Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra), Kantung Semar (Nepenthes gymnophora), Rangkong (Rhyticeros cassidix), Tangkasi (Tarsius spectrum), Kus-Kus dan (Ursinus celebensis).



Cagar Alam Duasudara

Sejak zaman Belanda kawasan ini dikenal sebagai hutan lindung, namun sejak tanggal 13 Nopember 1978 Menteri Pertanian menunjuk Gunung Duasudara sesuai SK. Menteri Pertanian No. 700/Kpts/Um/7/78 seluas 4.229 Ha sebagai cagar alam untuk perlindungan habitat satwa khas Sulawesi seperti Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra), Burung Rangkong, dsb. Penunujukan kawasan ini sebagai cagar alam selain untuk perlindungan satwa khas juga karena kawasan ini memiliki potensi alam yang sangat indah dan menarik. Kawasan berbatasan langsung dengan Cagar Alam Tangkoko sehingga memiliki beberapa tipe ekosistem dan memiliki beberapa satwa endemik yang hampir sama. Nama Duasudara ini diambil dari nam,a gunung yang terdapat di sana (Gn. Duasudara, 1.361 m dpl) yang memiliki dua puncak yang berdekatan dengan bentuk dan tinggi yang hampir sama sehingga kelihatannya seperti bersaudara. Di sekitar Gunung Duasudara terdapat dataran seluas 500 Ha yang dikenal bernama sebutan patar yang artinya rata. Tidak jauh dari dataran ini terdapat air terjun Kumeresot yang sumber airnya keluar dari celah-celah batu setinggi 6 m dan merupakan hulu sungai batuputih. Kawasan ini juga dikenal sebagai sumber tata air bagi kawasan Bitung dan sekitarnya. Selain menikmati panorama alam hutan, kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah kegiatan penelitian dan pendidikan.
Potensi flora dan fauna yang dapat dijumpai di kawasan ini yaitu Beringin (Ficus sp), Aras (Duabanga maluccana), Lingua (Pterocarpus indicus), Nantu (Palaquium sp), Coro (Ficus variegitas), Kayu Arang (Eugenia sp), Cempaka (Elmerrillia ovalis) ), Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra), Rangkong (Rhyticeros cassidix), Tangkasi (Tarsius spectrum), Kus-Kus dan (Ursinus celebensis).

Kawasan Konservasi Maluku Utara

TAMAN NASIONAL AKETA JAWE LOLOBATA

Letak dan Luas

Kawasan TN Aketajawe-Lalobata masuk dalam 3 (tiga) kabupaten/kota yaitu Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, dan Kota Tidore Kepulauan. Kawasan ini secara astronomis terletak antara 127˚ 17 20 BT – 127˚ 56 3 BT dan 0˚ 16 9,6 LU – 0˚ 52 20,17 LU serta letak Lolobata 128˚ 4 47,64 – 128˚ 45 31,5 BT dan 0˚ 57 8,44 LU – 1˚ 30 5,72 LU.

Batas Kawasan

Secara geografis, TN Aketajawe Lolobata berbatasan di :

w Sebelah Utara dengan areal HPH PT. Nusapadma Coorporation dan PT. Barito,

w Sebelah Barat dengan areal HPH PT. TAIWI unit I,

w Sebelah Selatan dengan areal HPH PT. TAIWI unit I,

w Sebelah Timur dengan areal HPH PT. TAIWI unit I.

Sedangkan berdasarkan Administrasi Pengelolaan Hutan, TN Aketajawe Lolobata termasuk dalam beberapa Resort Pemangkuan Hutan yaitu : RPH Subaim dan RPH Labi-Labi (BKPH Wasile), RPH Patlean dan RHP Wayamli (BKPH Maba), Cabang Dinas Kehutanan Daerah Tingkat II Halmahera Tengah, Dinas Kehutanan Propinsi Maluku Utara.

Iklim dan Topografi

Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim Oldeman, kawasan TN Aketajawe Lolobata termasuk zone agroklimat D1 dengan rata-rata curah hujan tahunan 2356 mm dan hari hujan 122 hari per tahun. Di kawasan Lolobata, rata-rata curah hujan maksimum terjadi pada bulan Juni (293 mm) dan minimum pada bulan Okbtober (111 mm). Temperatur rata-rata bulanan berkisar antara 25,20 C (bulan Juni) sampai 26,30 C (Januari, Maret, Mei, Nopember). Periode basah (curah hujan > 200 mm) berlangsung selama 4 bulan (April – Juli) tanpa adanya bulan kering.

Sedangkan di kawasan Aketajawe berdasarkan stasiun pengamat cuaca PT. Weda Bay Nikel (2001), rata-rata curah hujan maksimum 545,2 mm terjadi bulan Juli dan minimum 57,5 mm pada bulan Januari Temperatur rata-rata bulanan berkisar antara 21,90 C (bulan Juni) sampai 35,50 C (Agustus), kelembaban udara berkisar antara 48 % (Pebruari) sampai 98 % (Juli, Agutus). Periode basah (curah hujan > 200 mm) berlangsung selama 3 bulan (Mei – Juli) dan bulan kering (curah hujan <>

Topografi

Berdasarkan peta kelas lereng skala 1 : 750.000, kawasan TN Aketajawe Lolobata mempunyai topografi berombak, bergelombang, berbukit dan bergunung dengan beberapa kelas lereng yaitu 0 – 2 %, 2 – 15 %, 15 – 40 % dan > 40 %. Ketinggian tempat dalam kawasan ini sangat bervariasi, mulai dari ± 400 m – 1.206 m dari permukaan laut, dengan beberapa gunung seperti Gunung Iga (± 1.130 m), Gunung Manyasal (± 895 m), Gunung Popudo (± 975 m) dan Gunung Isalei (± 1.070 m) dan Gunung Towongo, Gunung Momomomjoi. Berdasarkan ketinggian tempat di atas permukaan laut, kawasan TN Aketajawe Lolobata dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

§ Dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 500 m dpl, dan

§ Dataran tinggi dengan ketinggian 500 – 1500 m

Hidrologi

Kawasan TN Aketajawe Lolobata dialiri oleh sejumlah sungai yang berhulu pada beberapa gunung antara lain Gunung Iga, Gunung Manyasal, Gunung Popudo dan Gunung Isalei sebagai daerah tangkapan air. Sungai-sungai yang terdapat di kawasan TN Aketajawe Lolobata merupakan sungai-sungai parmanen yang fluktuasi debitnya sangat bergantung dari kondisi penutupan lahan, intensitas dan lama curah hujan, distribusi curah hujan dalam daerah tangkap serta periode musim penghujan. Pada Sungai Gogaeli, Sungai Akelamo, Sungai Onat, Sungai Tutuling dan Sungai Kaliobo ditemukan beberapa air terjun kecil (pada Sungai Kaliobo) dengan ketinggian 8 – 10 meter.

Di kawasan Aketajawe dijumpai beberapa sungai antara lain Sungai Tuliling, Sungai Gagaeli, Sungai Pariama, Sungai Mancalele dan Sungai Soalat mengalir ke Teluk Kao; Sungai Gan, Sungai Sangadji, Sungai Terwele dan Sungai Wali mengalir ke Teluk Buli; Sungai Sungai Kobe, Sungai Magala, Sungai Tilope dan Sungai Akelamo mengalir ke Teluk Weda; Sungai Sofifi, Sungai Oba, Sungai Toloa dan Sungai Tomalou mengalir ke pesisir barat Pulau Halmahera. Sungai yang terpanjang dan terbesar di kawasan Aketajawe adalah Sungai Akelamo, Sungai Kobe, Sungai Sofifi, Sungai dengan anak-anak sungai yang tersebar luas.

Sedangkan di kawasan Lolobata dijumpai beberapa sungai antara lain Sungai Iga, Sungai Ifis, Sungai Lolobata, Sungai Dodaga, Sungai Labi-labi, Sungai Gagadi yang mengalir ke Teluk Kao; Sungai Fumalanga dan Sungai Akelamo yang mengalir ke timur; Sungai Mabulan, Sungai Lili, Sungai Waisango, Sungai Onat Sungai Kobe, yang mengalir ke Teluk Buli. Sungai yang terpanjang dan terbesar dikawasan Lolobata adalah Sungai Akelamo, Sungai Onat dan Sungai Ifis dengan anak-anak sungai yang tersebar luas, dimana sungai-sungai tersebut dapat dilayari perahu bermotor hanyalah Sungai Akelamo, Sungai Onat dan Sungai Ifis.

Geologi

Berdasarkan RePPProT 1989a dan Peta Geologi Halmahera skala 1 : 750.000, kawasan TN Aketajawe Lolobata tersusun dari beberapa formasi geologi yaitu :

§ formasi batuan kapur yang umumnya merupakan terumbu karang yang terangkat berasal dari periode Kuarter,

§ formasi batuan ultra basa (serpentinit, peridotit, gabro dan batuan basa) hanya terdapat dalam tanah atau pada patahan yang berasal dari tumbukan lempeng mungkin mengandung endapan logam terutama nikel,

§ Formasi batu sedimen (batu pasir, shales, turbidit konglomerat) dari periode Kuarter serta mencakup karang + sumber minyak + batuan resevoir dari periode Tersier,

Tanah

Berdasarkan RePPProt 1990b dan peta tematik tanah Maluku Utara skala 1 : 750.000 serta hasil pengamatan lapangan, TN Aketajawe Lolobata memiliki jenis tanah Hydraquents, Troporthents, Tropaquepts, Eutrandepts, Dystropepts, Ustropepts, Rendolls, Tropudalfs, Tropudults dan Haplorthox.

KEANEKARAGAMAN HAYATI

Ekosistem

Di sekitar Taman Nasional terdapat tujuh tipe ekosistem yaitu hutan mangrove, hutan pantai, hutan rawa dataran rendah, vegetasi tebing sungai, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan padang rumput sub-alpin.

a. Hutan Mangrove ( Mangrove Formation).

Vegetasi mangrove merupakan jalur sempit, letaknya tepat di belakang pantai berpasir yang agak tinggi di sepanjang pantai pulau Halmahera, baik dibagian barat bagian timur utara dan bagian selatan, perkembangan terbaik terdapat di sepanjang pantai Jailolo, pantai Sidangoli, Akelamo Aketajawe, dan di kawasan Taman Nasional di sekitar Dodaga. Jenis-jenis tumbuhan yang dominan antar lain tancang (Sonneratia alba), bakau-bakauan (Rhyzopora acuminate, R. mucronata), Bruguiera sexangula, api-api (Avicenia sp) dan nipah (Nypa fructicans).

b. Vegetasi Pantai ( Beach Formation).

Vegetasi pantai di sekitar Taman Nasional berkembang dengan baik di sepanjang pantai yang berpasir. Di daerah pesisir bagian selatan Taman Nasional sudah jarang di temukan vegetasi pantai alami. Jenis-jenis tumbuhan yang dominan adalah Ipomoa pescapre, Scinifax sp, Terminalia cattapa, Pandanus sp, dan Casuarina equisetifolia.

c. Hutan Rawa Dataran Rendah (lowland Swamp Forest)

Formasi ini merupakan kelompok-kelompok kecil yang perkembangannya kurang baik, letaknya di belakang jalur-jalur mangrove di pantai utara. Jenis-jenis tumbuhan yang dominan adalah Nauclea sp, Ficus nodosa, Baringtonia racemosa, Eugenia sp, Callophylum soulatri, C. inophylum, Alstonia scholaris, dan Anthocephalus cadamba. Khususnya di sekitar sungai Akelamo dan sungai besar lainnya, pada musim kemarau panjang sangat rawan terhadap kebakaran. Pada tipe formasi ini ditemukan Habrotila wallacii yang merupakan burung yang kurang dikenal di dunia, karena diketahui hanya hidup di hutan rawa air tawar Halmarera.

d. Vegetasi Tebing Sungai ( Riverbank Vegetation)

Tipe vegetasi ini perkembangannya sangat baik di sepanjang tebing sungai-sungai utama Akelamo, S. Sinopa, S. Kobe. Jenis-jenis yang di temukan di daerah ini antara lain benuang (Octomeles sumatrana), hiru (Vatica papuana), kenari ( Canarium vulgare), nyatoh (Palaqium sp), gosale ( Octomyrtus lanceolata) dan matoa (Pometia pinnata). Jenis tanah umumnya adalah Hydraquents yang berkembang dari endapan baru dan adanya pengaruh air tersebar pada daerah dataran aluvial (lembah-lembah) dan cekungan di sepanjang sungai-sungai. Dari hasil analisis tim Eksploirasi PT Weda Bay Nikel dan Tim Bird life menunjukan bahwa ada 159 jenis untuk tingkat pohon, 152 jenis untuk tingkat tiang, 136 jenis untuk tingkat sapihan dan 128 jenis untuk tingkat semai dan lantai hutan. Jenis-jenis pohon yang paling dominan adalah jenis Agathis ( Agathis alba), mersawa ( Anisoptera costata) dan hiru ( Vatica papuana), sedangkan jenis belta yang dominan samama ( Anthocephallus macrophylla) dan bintanggur ( Calophylum sulatri ).

f. Padang rumput sub-alpin ( Sub-alpine grassland)

Tipe vegetasi yang ada di sini adalah padang rumput dan semak-semak kecil yang terjadi akibat kebakaran hutan yang sering terjadi. Rumput-rumputan, paku-pakuan kecil dan semak-semak kecil berlimpah disini. Tipe habitat ini memiliki penyebaran yang sangat terbatas di Halmahera.

g. Hutan Hujan Dataran Rendah ( Lowland Rainforest)

Tipe vegetasi ini menutup sebagian besar dataran rendah Aketajawe dan Lolobata sampai ketinggian 500 m dpl. Jenis-jenis penyusunnya antara lain mersawa ( Anisoptera costata), hiru ( Vatica papuana), nyatoh ( Palaqium sp) dan matoa ( Pometia pinnata). Keanekaragaman hayati di hutan hujan dataran rendah di Halmahera lebih miskin dibandingkan dengan habitat yang sama di Kalimatan dan Papua, tetapi hampir sama atau sedikit lebih rendah dari pada di Sulawesi (van Balgooy dan Tantra, 1986; Edwards dkk, 1993b). Hutan hujan dataran rendah yang ditemukan di TN Aketajawe Lolobata dapat digolongkan ke dalam beberapa habitat antara lain hutan di atas batuan pasir, hutan di atas batuan kapur dan hutan di atas batuan ultra basa.

h. Hutan Hujan Pegunungan ( Montane Rainforest)

Tipe vegetasi ini di jumpai di seluruh pegunungan lolobata, wato-wato dan Sinopa Aketajawi. Hutan pegunungan terletak sekitar ketinggian 700 m atau lebih di Halmahera. Di atas tanah vulkanis, salah satu ciri hutan pegunungan, yang mudah di jumpai di atas ketinggian 700 m. Hutan berlumut atau hutan pegunungan atas dengan pohon-pohon kerdil beserta lumut dan paku-pakuan, anggrek dan lumut hati terdapat di lereng-lereng di ketinggian tertinggi. Sedangkan pada ketinggian antara 500 - 700 m, di dominasi oleh jenis-jenis Hiru (Vatica spp) dan jenis Agathis (Agathis sp).

Flora

Pulau Halmahera, terletak di antara dua pusat keragaman hayati botani dari bagian barat sampai timur Melanesia (kawasan biogeografi yang membentang dari Malaysia sampai Papua New Guinea).

Halmahera mempunyai jenis pohon pada hutan hujan/basah tropis pada umumnya sedikit dibandingkan dengan hutan yang sama di Seram, Irian atau Kalimantan namun mempunyai tegakan yang cukup banyak per jenis pohon. Jenis pohon yang di temukan di Halmahera termuat pada lampiran 1 sebanyak 55 jenis di dalamnya terdapat 2 spesies yang dilindungi yaitu Agathis sp dan Canarium sp.

Jenis-jenis pohon dominan di hutan dataran rendah antara lain Ficus spp., Bischoppia javanica, Dracontomelon mangiferum, Artocarpus spp., Celtis philipppensis, Vitex cofassus, Diospuros spp., Steeculia sp., Aglaia sp., Myristica spp, Instia bijuga, Erytroxylon sp, Metroxideros pachyclades, Pommetia pinnata, Garcinia dulcis, Maniltoa p, Buchanania arborescens, Endospermum moluccanum, Mimusops elengi, Kjellbergiodendron sp, Duabanga moluccana, Pterospermum sp. Sedangkan jenis-jenis yang dijumpai di hutan hujan pegunungan bawah antara lain Agathis sp, Casuarina sumatrana, Calophyllum inophyllum, Garcinis spp, Palaqium obtusifolium, Canarium spp.

Jenis-jenis kayu komersial antara lain Damar (Agathis sp), Bintanggur (Calophyllum inophyllum), Benuang (Octomeles sumatrana), Hopea sp, Kenari (Canarium spp), Kayu Bugis (Koordersiodendron pinnatum), Matoa (Pometia pinnata), Mersawa, Merbabu (Instia bijuga), Nyatoh (Palaquium obtusifolium), Pala Hutan (Myristica spp), Samama, Gosela dan Karikis. Di dalam hutan yang diusulkan terdapat dua jenis rotan besar yang bernilai komersial.

Fauna

Penelitian tentang fauna di Halmahera belum banyak dilakukan dibandingkan dengan penelitian tentang flora. Penelitian khusus tentang burung pernah dilakukan oleh Bird Life International Indonesia Programme (1999). Berdasarkan hasil penelitian tersebut di Halmahera berhasil ditemukan beberapa spesies mamalia, reptilia, ampibi, aves dan kupu-kupu.

a. Mamalia

Mamalia yang tercatat dalam penelitian yang dilakukan oleh Groenhart dkk (951) dan Wegner dkk (1953) dalam Monk dkk (2000) sebanyak 34 spesies sebagai mamalia teresterial yang asli Halmahera. Dari 34 spesies tersebut terdapat 3 spesies endemik yaitu Phalanger sp, Rhinolophus euryotis timidus serta Hipposideros diadema euotis dan 1 spesies yang dilindungi Cervus timorensis moluccensis.

b. Burung (Aves)

Pada saat ini kekayaan jenis burung di Pulau Halmahera yang sudah diketahui 217 species burung, 21 spesies diantaranya adalah burung laut, 31 spesies burung air penetap, 33 spesies burung air migran, 26 burung migran, 83 spesies burung penetap hutan.

Dari 217 spesies tersebut diketahui 24 spesies diantaranya merupakan endemik Maluku Utara yang terdapat di Pulau Halmahera dan 4 diantaranya tidak terdapat di tempat lain. Dari 24 spesies yang merupakan endemik Maluku Utara, 7 spesies merupakan spesies yang dilindungi (Haliastur indus, Lorius garrulus, Charmosyna placentis, Cacatua alba, Alcedo azurea, Alcedo attis, Alcedo pusilla, Rhyticeros plicatus dan Semioptera wallacii), dan 17 spesies merupakan burung langka (Accipiter erythrauchen, Accipiter meyerianus, Hieraaetus morphnoides, Falco moluccensis, Falco severus, Eulipoa wallacei, Habroptila wallacii, Treron vernans, Ptilinopus rivoli, Ducula rosacea, Columbia vitiensis, Alisterus amboinensis, Cacomantis heinrichi, Sumiculus lugubris, Ninox connivens, Alcedo pusilla dan Eurystomus azureus).

Pulau Halmahera memiliki 4 jenis burung yang tidak dijumpai dimanapun, 3 diantaranya telah diketahui berada di TN Aketajawe Lolobata dan 1 jenis lainnya (Habroptila wallacii) diyakini ada di taman nasional tetapi belum ditemukan.

Tabel 1.4. Jenis Burung Endemik Pulau Halmahera

Nama Ilmiah

Nama inggris

Catatan

Habroptila wallacii

Invisible Rail

Dilaporkan menyukai area penghubung antara rawa sagu dan hutan perbukitan dataran rendah

Todiramphus funibris

Sombre Kingfisher

Ditemukan di pinggiran hutan agak ke dalam, sering dekat dengan area pembukaan hutan atau tepi hutan

Coracina parvula

Halmahera Cuckoo-shrike

Sangat umum di hutan bekas tebangan atau hutan perbukitan yang belum ditebang juga dijumpai di dataran rendah.

Oriolus phaeochromus

Dusky-brown Oriole

Menyukai hutan primer dan hutan sekunder tinggi dataran rendah serta hutan perbukitan.

(Collar dkk, 1994; Shannaz dkk, 1995 dalam Bir Life, 2000).

c. Reptilia dan ampibi

Di Halmahera terdapat reptilia 46 spesies diantaranya adalah tokek 4 spesise, kadal 14 spesies, biawak 2 spesies, Typhlopidae 1 spesies, Boidae1 spesies, Uropeltidae 1 spesies, Colubridae/ Homalopsidae 10 spesies, buaya 1 spesies, bulus 1 spesies, kura-kura darat 1 spesies. Reptilia endemik di Halmahera adalah dari jenis kadal 3 spesies yaitu Hydrosaurus werneri, Emoia reimschisseli (weweri) Eugongylus albofasciatus (mentovaria), serta yang dilindungi dari jenis ular 1 spesies yaitu Calomaria sp. Jenis mamalia yang ditemukan di Halmahera adalah jenis katak 7 spesies dimana 3 diantaranya merupakan spesies endemik yaitu katak sungai (Papuarana moluccna) dan 2 spesies katak mulut sempit (Callulops dubia dan Cophixalus montanu).

d. Kupu-kupu

Penelitian kupu-kupu di Maluku Utara dan Halmahera masih sedikit sehingga informasi mengenai spesies kupu-kupu sangat terbatas. Informasi tentang spesies kupu-kupu di Halmahera hanya tercatat dalam penelitian yang dilakukan oleh oleh Groenhart dkk (951) dan Wegner dkk (1953) dalam Monk dkk (2000). Kemudian yang tercatat dalam penelitian burung yang dilakukan oleh Bird Life International Indonesia Programme 1994 – 1996 (1999). Di Halmahera terdapat 10 spesies kupu yang mana 1 diantaranya diketahui sebagai spesies endemik kupu-kupu raja (Graphium euphrates).

e. Molusca dan Insekta

Dari hasil penelitian pada Taman Nasional Lolobata dan Aketajawe yang dilakukan oleh AKP/Birdlife Indonesia ( 1996), ditemukan 22 jenis Molusca/Siput dari 2 ordo yaitu : Ordo Prosobranchia dan ordo Pulmata dengan 6 famili yang seluruhnya merupakan endemik pulau Halmahera. Famili-famili tersebut antara lain Famili Cyclophoridae dengan jenis-jenisnya; Leptopoma crenilabre, Leptopoma fa obaensis, Leptopoma halmahericum, Leptopoma kukenthali, Leptopoma molucensis?, famili Helicinidae jenis-jenisnya ; Palaeohelicina zoae, Sulfurina halmaherica, famili Pupinidae jenis-jenisnya : Pupina longituba, Pupina solitaria, famili Helicarnionidae jenis-jenisnya : Helicarion halmahericus, Helicarion kukenthali, famili Camaenidae jenis-jenisnya : Planispira cingarus, Planispira mersispira, Planispira quardrifasciata fa dodingensis, Planispira scheepmakeri fa kobeti, Planispira surrecta, Planispira tietzeana, Pseudobba anacardium, dan famili Bradybaenidae jenisjenisnya : Pyrochilus breenonis, Pyrochilus kekenthali dan Pyrochilus lampas.

Untuk insecta ditemukan 7 jenis yang terdapat dari tiga ordo yaitu : Ordo Odonata, ordo Orthoptera dan ordo Lepidoptera dengan 4 famili yang seluruhnya juga merupakan jenis-jenis endemik pulau Halmahera. Famili-famili tersebut antara lain famili Isostictidae jenisnya Selysioneura thalia, famili Cordullidae jenis-jenisnya Synthemis alecto , Synthemis cervula, famili Papilionidae jenisnya Papilo heringi dan famili Catantopidae jenis-jenisnya : Cranae kukenthali kukenthali, Cranae nigro reticulate dan Phalaca splendida.

POTENSI PARAWISATA

Potensi Budaya

Di dalam kawasan TN Aketajawe Lolobata masih terdapat penduduk asli (Suku Togutil) atau komunitas adat terpencil (daerah enclave) yang belum tercampur dengan penduduk masyarakat pendatang yaitu yang tinggal di desa Tutur-Tukur, Totodoku, Oboi, Waya, Suo, Tatam, Lili dan Mabulan. Adat istiadat dan kebudayaan masyarakat ini merupakan satu aset wisata budaya yang penting untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia.

KEADAAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA MASYARAKAT

Kependudukan

Jumlah penduduk untuk seluruh desa sekitar TN Aketajawe Lolobata sebanyak 71.653 jiwa (Kantor Statistik Maluku Utara) dengan luas wilayah desa 5.373,55 km2 atau kepadatan rata-rata sekitar 13,0 jiwa/km2. Dibandingkan dengan kepadatan penduduk rata-rata secara nasional maka di sekitar TN Aketajawe Lolobata ini memiliki kepadatan penduduk yang rendah. Sebaran kepadatan penduduk tertinggi di desa UPT Kobe Kulo yang mencapai 295,0 jiwa/km2, hal ini dapat dimaklumi karena desa ini merupakan desa transmigrasi.

Desa-desa yang relatif dekat dengan kawasan Taman Nasioal Aketajawe Lolobata umumnya adalah desa transmigrasi (desa-desa UPT) di kecamatan Weda, desa-desa ini memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi.

Cagar Alam Gunung Sibela

Status

Gunung Sibela ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 326/Kpts-II/1987 tanggal 14 Oktober 1987.

Kondisi Fisik

Dengan luas 23.024 Ha, Gunung Sibela adalah salah satu gunung tertinggi di Maluku Utara dengan ketinggian 2.118 meter di atas permukaan laut. Cagar Alam Sibela terletak di Pulau Bacan, Propinsi Maluku Utara, memiliki banyak sumber mata air yang mengalir kebeberapa sungai.

Potensi

Fauna :

Monyet (Macaca nigra sp), Nuri Ternate (Lorius garrulus), Bayan (Electus roratus), Burung Raja (Cicinurus regius), Kasturi (Eos bornea), Kakatua Alba (Cacatua alba), Perkicit Violet (Eos squamata).

Flora :

Matoa (Pometia pinnata), Gufasa (Vitex cofassus), Samama (Anthocephalus macrophyllus), Jenis-jenis Anggrek alam serta adanya cengkeh alam yang berumur cukup tua yang ditanam oleh penduduk (cengkeh avo).

Kegiatan

Kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka pengelolaan dan pemanfaatan Cagar alam Gunung Sibela, antara lain : Penelitian lapangan baik flora maupun fauna, serta rekreasi alam secara terbatas.

Aksesibilitas

  • Dari Ambon ke Ternate dengan menggunakan pesawat terbang, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam atau dengan menggunakan kapal laut. Selanjutnya dari Ternate ke Bacan/Labuha dengan menggunakan motor laut dengan waktu tempuh sekitar 8 jam.
  • Dari Ambon langsung ke Bacan/Labuha dengan menggunakan pesawat terbang (senin dan kamis) dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.

Cagar Alam Lifamatola

Status

Kawasan Hutan Lifamatola ditetapkan sebagai kawasan konservasi dengan status Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 285/Kpts-II/1995 tanggal 6 Juli 1995.

Kondisi Fisik

Cagar Alam Lifamatola dengan luas 1.690,53 hektar ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Taliabu Timur, Kabupaten Pulau-pulau Sula, Propinsi Maluku Utara.

Potensi

Fauna :

berbagai jenis burung dan satwa antara lain : Kakatua Putih Kecil (Cacatua alba), Kasturi (Eos squamata), Nuri Raja (Alisterus amboinensis), Serindit (Loriculus amabilis), Betet Sula (Trichoglussus flavovisidis)), Babirusa (Babiorusa babirusa), , Kus-Kus (Phalanger orientalis) dan Rusa (Cervus sp).

Flora :

Berbagai jenis flora dari tipe Vegetasi pegunungan antara lain : Meranti (Shorea sp), Matoa (Pometia pinnata) dll.

Kegiatan

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka pengelolaan dan pemanfaatan Cagar Alam Pulau Lifamatola masih sangat terbatas, antara lain : untuk penelitian lapangan baik flora maupun fauna serta untuk rekreasi alam terbatas.

Aksesibilitas

Cagar Alam Lifamatola dapat ditempuh dengan cara : Dari Ambon ke Mangole dengan menggunakan pesawat udara dengan frekwensi penerbangan dua kali dalam seminggu yaitu setiap hari Rabu dan Sabtu dengan waktu tempuh 1,5 jam atau dengan kapal perintis dengan waktu tempuh sekitar 12 jam . Selanjutnya dari Mangole ke lokasi Cagar Alam Lifamatola dengan menggunakan perahu motor/speed boat carteran dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Cagar Alam Pulau Seho

Status

Pulau Seho ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 492/Kpts/Um/10/1972 tanggal 14 Oktober 1972.

Kondisi Fisik

Cagar Alam Pulau Seho ini terletak di Pulau Seho dengan luas 1.250 Ha. Secara administratif pemerintahan termasuk ke dalam Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Maluku Utara. Pulau Seho mempunyai keadaan topografi yang datar sampai dengan 3 kilometer dari pantai, kemudian berbukit dengan ketinggian 0-426 meter di atas permukaan laut.

Potensi

Fauna :

Berbagai jenis burung dan satwa liar antara lain, terutama yang khas/endemik Maluku Utara antara lain : Kakatua Alba (Cacatua alba), Nuri Ternate (Lorius garrulus), Perkicit Violet (Eos squamata), Burung Rangkong (Rhyticeros plicatus), dan lain-lain.

Flora :

Vegetasi Matoa (Pometia pinnata) yang juga terdapat di Irian Jaya, juga jenis Palma serta anggrek-anggrek alam.

Kegiatan

Kegiatan yang dapat dilakukan pada CA. Pulau Seho, antara lain :

  • Untuk penelitian lapangan, baik flora maupun fauna.
  • Untuk rekreasi alam terbatas, mendaki gunung dan lain-lain.

Aksesibilitas

Dari Ambon ke Ternate dengan menggunakan pesawat udara dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, atau dengan menggunakan kapal laut dengan waktu tempuh sekitar 18 jam. Selanjutnya dari Ternate ke Bacan, terus ke Falabisahaya, dofa dan bobong dengan menggunakan kapal perintis dengan waktu tempuh sekitar 24 jam, atau Dari Ambon melalui Namlea-Sanana-Bobong langsung ke kawasan Cagar Alam Pulau Seho dengan menggunakan kapal perintis dengan waktu tempuh sekitar 10 jam.

Cagar Alam Taliabu

Status

CA. Taliabu ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 684/Kpts-II/1995 dengan luasan 9.743 hektar.

Kondisi Fisik

Topografi Pulau Taliabu relatif bergelombang dan datar sehingga merupakan daerah dataran rendah, dengan ketinggian 0 – 50 m dpl. Kondisi tanah adalah berpasir dan berbatu. Curah hujan rata-rata tahunan adalah 410 mm dengan temperatur rata-rata berkisar 30 - 32 oC. Secara administratif pemerintahan, CA. Taliabu termasuk pada wilayah Kabupaten Pulau-pulau Sula, Propinsi Maluku Utara.

Potensi

Fauna :

Berbagai jenis burung dan satwa liar lain, terutama khas/endemik Maluku Utara antara lain : Bayan (Electus roratus), Perkicit Violet (Eos squamata), Burung Rangkong (Rhyticeros plicatus), dan lain-lain. Juga terdapat beberapa jenis mamalia dan reptilia khas Maluku, antara lain : Rusa (Cervus timorensis), Biawak (Varanus sp.), Kus-kus (Phalanger orientalis), dan Kanguru (Dendrolagus atterimus).

Flora :

Dataran P. Taliabu relatif bergelombang dan rendah yang didominasi oleh jenis tumbuhan Ketapang (Terminalia catappa) Meranti (Shorea sp.), Matoa (Pometia pinnata), Bintanggur (Callophillum inophylum), Linggua (Pterocarpus indicus), Kayu merah, Nyatoh (Palaqium spp), serta jenis-jenis Angrek Alam.

Kegiatan

Beberapa kegiatan dapat dilakukan, antara lain :

· Untuk penelitian lapangan, baik flora maupun fauna.

· Untuk rekreasi alam terbatas, camping, dan lain-lain.

Aksesibilitas

Dari Ambon ke Ternate dengan menggunakan pesawat dengan waktu tempu ± 2 jam atau dengan menggunakan kapal Pelni dengan waktu tempu sekitar ± 18 jam selajutnya dari Ternate ke Bacan terus ke Taliabu dengan menggunakan kapal perintis dengan waktu tempu sekitar ± 24 jam. Dari Ambon melalui Namlea – Sanana –Taliabu langsung ke kawasan Cagar Alam Taliabu dengan menggunakan kapal perintis dengan waktu tempu sekitar ± 12 jam.

Cagar Alam Pulau Obi

Status

Pulau Obi ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 685/Kpts-II/1995 dengan luasan 1.250 hektar.

Kondisi Fisik

Topografi Pulau Taliabu relatif bergelombang dan datar sehingga merupakan daerah dataran rendah, dengan ketinggian 0 – 50 m dpl. Kondisi tanah adalah berpasir dan berbatu. Curah hujan rata-rata tahunan adalah 420 mm dengan temperatur rata-rata berkisar 29 - 30 oC. Secara administratif pemerintahan, CA. Taliabu termasuk pada wilayah Kabupaten Halmahera Selatan, Propinsi Maluku Utara.

Potensi

Fauna :

Berbagai jenis burung dan satwa liar lain, terutama khas/endemik Maluku Utara antara lain : Burung Gosong (Megapodius reinwardtii), Nuri Ternate (Lorius garrulus) Bayan (Electus roratus), Perkicit Violet (Eos squamata), Burung Rangkong (Rhyticeros plicatus). Juga terdapat beberapa jenis mamalia dan reptilia khas Maluku, antara lain : Rusa (Cervus timorensis), Biawak (Varanus sp.), dan Kus-kus (Phalanger orientalis).

Flora :

Dataran Pulau Obi relatif bergelombang dan rendah yang didominasi oleh jenis tumbuhan Ketapang (Terminalia catappa) Meranti (Shorea sp.), Matoa (Pometia pinnata), Bintanggur (Callophillum inophylum), Linggua (Pterocarpus indicus), Kayu merah, Nyatoh (Palaqium spp), serta jenis-jenis Angrek Alam.

Kegiatan

Beberapa kegiatan dapat dilakukan, antara lain :

  • Untuk penelitian lapangan, baik flora maupun fauna.
  • Untuk rekreasi alam terbatas, camping, dan lain-lain.

Aksesibilitas

Dari Ambon ke Ternate dengan menggunakan pesawat dengan waktu tempu ± 2 jam atau dengan menggunakan kapal Pelni dengan waktu tempu sekitar ± 18 jam selajutnya dari Ternate ke Bacan terus ke Bobong dengan menggunakan kapal perintis dengan waktu tempu sekitar ± 24 jam. Dari Ambon melalui Namlea – Sanana – Bobong langsung ke kawasan Cagar Alam P. Obi dengan menggunakan kapal perintis dengan waktu tempu sekitar ± 12 jam.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar